Kamis, 14 Juli 2011

Aku dan Sepakbola (Memori SD)

Hei, namaku Chandra Syawaldi Halim Nasution. Anak ketiga dari 4 bersaudara. Aku lahir tanggal 16 April 1991. Kata orang tuaku aku lahir di malam pertama bulan Syawal. Makanya nama tengah ku Syawaldi.

Aku dan sepakbola. Yap.. Aku akan ceritakan tentang kehidupanku saat bermain bola di masa-masa SD. Awal tahun 2002 (kelas 5 SD) adalah momen dimana aku nyukai sepakbola. Aku sepertinya sudah menceritakannya berulang kali di blog ini awal aku mengenal dan menyukai sepakbola. Ya, itu semua di awali dengan pemberian kado ulang tahunku dari Ayah. Satu kaos sepakbola dan sebuah bola karet kecil. Dimana kaos tersebut adalah tim yang aku favoritkan yaitu Intermilan. Satu kaos dimana dibagian punggung bertuliskan sebuah nama dan nomor yaitu Recoba dengan nomor 20. Sayang, kaos tersebut sudah hilang ntah kemana. Dan aku hampir setiap harinya bermain bola karet pemberian dari ayahku di garasi rumah. Ayahku menjadi kiper, dan aku yang jadi penendang bola. Memori yang ga terlupakan dan menyenangkan karena di waktu itu Ayahku jabatan cuma sebagai dosen jadi punya banyak waktu luang kalau sore dirumah. Sekarang? Terlalu sibuk sama kerjanya, aku baru bangun tidur udah pergi kerja. Jadinya ya aku lebih sering pergi keluar, ketimbang di rumah bersama keluarga. Kalau dirumah pun cuma ngurung diri dikamar.

Back to topik

Sebetulnya aku udah mulai main bola sejak awal-awal masuk kelas 5. Tapi, ga terlalu hobi. Cuma iseng-iseng ngisi waktu pas pelajaran olahraga. Dan aku pun naik kelas 6. Disinilah aku mulai nekuni sepakbola. Aku ikut latihan sepakbola di sekolahku. Posisi dalam sepakbola? Sebetulnya kalau itu ditanyakan padaku waktu itu, aku pun tidak begitu tau apa posisiku pas SD. Selalu ganti-ganti. Diawal-awal , aku dipasang diposisi bek tengah saat latihan pertama. Masih ingat aku teman duetku di posisi bek waktu itu siapa. Abdul Hadi. Anak dari mantan Walikota Medan, Bapak Abdillah. Lalu, pas latihan ntah keberapa, aku dipasang jadi bek kanan.

Pelatih kami saat itu adalah guru olahraga kami sendiri. Sebenarnya dia cukup bagus dalam melatih kami. Tapi, ada satu kejadian yang membuat dia masuk daftar orang yang ku sukai hingga saat ini.

Awal kejadiannya ketika kami uji coba pertama kali lawan SD Harapan 2. Uji cobanya pas sekitar 2-3 minggu terakhir sebelum libur akhir tahun. Saat itu kami kalau ga salah berjumlah 17 orang. Ya, sekitar segitu karena waktu itu aku orang yang terakhir kali dimasukkan. Pertandingan memang bisa dibilang sangat biasa dan monoton. Bola lebih banyak bergulir di lapangan tengah. Aku waktu itu sebagai pemain cadangan. Di babak kedua 4 orang kawanku dari bangku cadangan masuk bermain. Kemudian di waktu pertandingan tinggal sekitar 10 menit terakhir aku masuk ke lapangan. Saat itu, aku di instruksikan pelatih bermain di posisi tengah menyerang. Dia memang makai bahasa Indonesia yang aneh waktu itu. Kalau di defenisikan maksud darinya itu adalah posisi playmaker. Kalau di ingat-ingat, sedikit aneh dan kebetulan. Posisi playmaker dalam sepakbola sangat identik dengan nomor punggung 10. Sebetulnya ga semua playmaker makai nomor 10. Tapi, bagi yang sangat suka dengan sepakbola pasti tau makna dari kata "pemain kesepuluh" atau "pemain bernomor sepuluh". Kata tersebut dimaksudkan sebagai pemain yang bermain diposisi playmaker. Pemain yang perannya memang cukup penting sebagai pengalir bola dari belakang ke depan atau sebagai pemain yang mengkreasikan serangan dari lapangan tengah. Dan memang secara kebetulan aku ditempatkan sebagai playmaker waktu itu dan menggunakan nomor punggung 10. Memang sedikit kebetulan, dan aku pun baru menyadarinya saat ini.

Aku pun masuk ke lapangan di sekitar 10 menit terakhir. Memang secara diluar duga, aku lebih sering mendapatkan bola diposisi tersebut ketimbang sebelumnya sebagai bek. Dan aku masih ingat betul aku memiliki satu peluang cetak gol dipertandingan itu. Satu tendangan dari bola muntah sepak pojok kalau ga salah waktu itu. Aku tendang bola ke kanan bawah gawang. Tapi, tendangan ku saat itu cuma membentur tiang gawang. Itu satu-satunya tendangan yang kulakukan di pertandingan itu. Secara hasil, memang kami menang tipis 1-0 dan bukan aku yang nyetak. Tapi dari segi penampilan aku, cukup memuaskan karena lebih sering mendapat bola dan bisa buat 1 peluang. Secara teknis, permainanku ga begitu buruk. Aku pun ga ada melakukan kesalahan passing dipertandingan itu.

Tapi setelah pertandingan aku baru sadar. Aku adalah pergantian yang kelima dan ternyata adalah pergantian terakhir di pertandingan itu. Seperti yang ku bilang di awal, kami berjumlah 17 orang. Secara matematis, kalau aku adalah pergantian yang kelima dan merupakan pergantian terakhir, berarti hanya 16 orang yang diturunkan dipertandingan itu (11 orang memulai pertandingan dari awal).

Dan, memang benar ada 1 orang kawanku yang ga bermain dipertandingan itu. Namanya Tigor Situmorang. Dari segi postur, badannya memang tidak meyakinkan berlari. Kalau aku prediksi, berat badannya saat itu sekitar 85-110 kg. Mungkin lebih tepatnya di angka 90kilo. Setelah, pertandingan, ya namanya cuma berkawan. Ada sedikit lecehan dari beberapa kawanku ke dia.

"Loh gor. Ga main? Masuk sana ke lapangan."

"Gor, gantikan aku la sana."


Ya, memang cuma kalimat bercanda di akhiri ketawa-ketawa. Tapi, ya ku cukup sedih lihat dia. Cuma bisa diam aja waktu itu. Aku lihat pelatih kami pun cuma senyum-senyum sinis aja. Ga ada reaksi untuk memberikan penjelasan padanya kenapa ga dimainkan. Dan sejak itulah, aku ga begitu menyukai pelatih tersebut.

Sepakbola memang hanya sepakbola. Suatu permainan yang dimainkan untuk semua umur tanpa terkecuali. Dan apalagi, pertandingan itu memang cuma sebuah uji coba. Tapi apa salahnya untuk menurunkan semua pemain yang ada saat itu. Aku tau memang cukup berat memprediksi hasil akhir pertandingan saat itu kalau dia dimainkan. Bodi nya memang besar dan membuat lari dia cukup lambat untuk duel one on one. Tapi, kayaak yang ku bilang tadi. Cuma sebuah uji coba. Ga ada salahnya memainkan semua pemain yang ada. Hasil akhir bukan sebuah kunci dari permainan ini.

Aku masih ingat bagaimana memang kawanku yang satu ini sangat rajin ikuti latihan. Malah dia selalu lebih sering datang lebih awal. Bukan bermaksud ngejek, kalau ga salah dia dari keluarga (maaf) kurang mampu. Dia pergi ke sekolah dan latihan naik becak mesin dengan orang yang sama. Dengar-dengar, pebecak mesin itu adalah tetangga nya kalau aku ga salah dengar.

Cukup sedih aku liat dia waktu itu dan memang aku akui jujur aku kesal dengan pelatih tersebut.
Di latihan terakhir kami sebelum libur akhir tahun adalah latihan terakhir ku. Dan di latihan tersebut kami memainkan games pertandingan setengah lapangan. 1 tim 6 orang waktu itu. Masih ingat aku 3 rekanku yang ku kenal setim aku. Si ipol, alif dan deni. Dan di games terakhir itu aku ditempatkan di posisi penyerang bersama alif. Di games itu kami cetak 10 gol dimana cuma aku dan alif yang nyetak gol buat tim kami. Aku 4 gol dan sisanya si alif (6 gol). Games yang seru diselingi ketawa-ketawa kami. Dan sejak itu, aku memantapkan posisiku sebagai penyerang.

Seperti yang ku bilang, itu adalah latihan terakhirku. Di awal tahun baru aku ngundurkan diri. Alasan memang benar jarak rumah dan tempat latihan yang cukup jauh. Jalan Pahlawan (dekat Jl. Pancing)  dengan Johor Ujung. Sebenarnya memang bukan itu satu-satunya alasan aku ga latihan lagi. Salah satunya memang karena kejadian waktu uji coba tersebut. Aku masih kecewa dengan tindakan pelatih kami. Padahal di tahun baru itu ada seleksi untuk mewakili sekolah ikut turnamen Kid Soccer Championship. Yah, padahal memang itu tujuanku sebenarnya buat ikut latihan. Tapi udah telanjur lewat ya memang udah terlanjur. Dan aku dengar-dengar kawanku si Tigor ikut seleksi tersebut dan memang yang sudah diperkirakan. Dia gagal lolos masuk ke dalam tim. Kalah bersaing dengan orang-orang yang baru mendaftar ikut latihan di tahun baru tersebut.

Setelah ngundurkan diri, kegiatan sepakbolaku ya cuma di waktu pelajaran olahraga dan di waktu pulang sekolah aja sama kawan-kawan dekatku sampai saat ini yang tergabung di tim SDP. Ada Rinaldi, Mirsyad dan Nanda. Dan aku masih ingat pas main bola sama mereka teman duetku di depan yang memang kami cukup kompak tiap bermain. Namanya Fadli. Orang nya memang bertubuh kecil dan kurus. Tapi, dia punya umpan-umpan yang bagus buatku. Dan menurutku, hingga saat ini dia memang satu-satunya yang pas jadi duetku. Komunikasi kami dilapangan bagus dan bisa dibilang sangat bagus. Sekarang ntah dimana anak itu. Masih bernyawa pun ga tau aku hahahaha. Ga ada kabarnya lagi. Tapi katanya dia masuk di Agrobisnis USU kalau ga salah dengar aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar