Kemenangan 5-1 Timnas Indonesia atas Malaysia di partai pembuka penyisihan grup Piala AFF seperti tidak ada gunanya saat di fial. Menghadapi lawan yang sama yaitu Malaysia, Timas kita harus bertekuk lutut dengan skor 3-0. Memang skor yang tidak terlalu besar seperti terjadi di babak peyisihan. Tapi, itu cukup mengecilkan perjuangan Tim Merah Putih untuk menjuarai Piala AFF untuk kali pertamanya. Memang kita masih ada peluang di leg 2 hari ini di Stadion Gelora Bung Karno. Bagaimanapun juga langkah Timnas untuk mengejar defisit 3 gol sangat berat. Bahkan pelatih timnas Indonesia sendiri,Alfred Riedl, mengatakan peluang Indonesia menjuarai Piala AFF hanya 10%.
Kekalahan ini memang sangat menyakitkan. Bukan hanya pemain Timnas kita sendiri, tapi seluruh Indonesia pun kecewa dengan hasil ini. Timnas kita memang terpuruk beberapa tahun ini sejak berakhirnya pergelaran Piala Asia 2007 silam. Pujian yang memang cukup pantas diberikan terhadap perjuangan timnas di Piala Asia 2007 lalu. Kendati gagal lolos dari penyisihan grup, permainan Timnas saat itu memang pantas di acungi jempol. Spirit dan semangat juang yang tinggi mereka junjung untuk membela tanah air ini. Tapi, setelah Piala Asia berakhir semua berubah 180 derajat. Penampilan yang buruk di Piala AFF tahun 2008 dan yang paling menyakitkan tentu kegagalan Timnas lolos ke putaran grup Piala Asia 2011.
Tapi, sejak tahun 2009 Timnas yang di pimpin oleh pelatih baru, Alfred Riedl, mulai menunjukkan sedikit perubahan. Awal kepelatihan Riedl sempat tidak begitu bagus. Dihajar oleh Uruguay dengan skor telak 7-1. Memang kekalahan itu tidak sepenuhnya kesalahan diberikan kepada Riedl dan pemain kita. Kita memang kalah kelas dari Uruguay yang sebelumnya menjadi semifinalis Piala Dunia 2010.
Harapan itu muncul ketika Piala AFF bergulir. Malaysia dihajar 5-1, Laos dibuat bertekuk lutut 6-0, dan Thailand yang harus pulang lebih awal setelah dikalahkan Timnas kita dengan skor 2-1. Di semifinal Timnas kita berhasil mengalahkan Filipina dengan agregrat 2-0. Penampilan yang begitu bagus dari Timnas kita yang banyak dihuni para pemain baru. Nasuha, Yongki, Bustomi, Zulkifli , Irfan Bachdim dan Christian Gonzales, dan muka-muka baru lainnya.
Bahkan sejak penampilan bagus Timnas, para pemain kita dibuat bak seperti artis-artis. Selalu di ikuti para wartawan, wawancara dan menjadi topik hangat di televisi dan koran-koran. Sesuatu yang tidak penting dan ga perlu dilakukan sama sekali. Media terlalu berlebihan mengekspos kegiatan Timnas kita di luar lapangan. Khusus buat ketum PSSI dan anggota-anggota nya, mereka seperti mengambil kesempatan dalam keadaan ini. Bahkan seperti ada politisasi yang terjadi ketika salah satu orang penting di Indonesia, Aburizal Bakrie mengundang Timnas ke kediamannya.
Sekarang, setelah Timnas kita dikalahkan 3-0 oleh Malaysia, mereka seperti saling melempar kesalahannya. Bahkan sinar laser yang digunakan suporter Malaysia untuk mengintimidasi pemain kita dijadikan kambing hitam atas kekalahan kita. Tidak, menurutku itu bukan bagian dari penyebab kekalahan Timnas kita. Justru Media Massa dan Nurdin serta kegiatan ga pentingnya untuk Timnas adalah biang dari semua ini.
Walaupun masih ada peluang walaupun itu kecil aku yakin Timnas kita akan tetap berusaha meraih gelar yang selama ini kita impikan. Jika itu berhasil, aku berharap Nurdin dan orang-orangnya tidak mengambil kesempatan ini lagi dengan mengganggap mereka adalah pahlawan dibalik kemenangan Timnas kita.
AKU AKAN TETAP SUPPORT INDONESIA APAPUN HASILNYA. TETAP DUKUNG TIMNAS KITA.
MENANG ATAU KALAH , JUARA ATAUPUN TIDAK, GARUDA TETAP DI DADAKU!!!
AKU AKAN TETAP SELALU DUKUNG TIMNAS, TAPI TIDAK DENGAN PSSI SELAMA NURDIN HALID DAN ANGGOTA-ANGGOTANYA TETAP DISANA!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar